Riding Report Bandy Itachi, tak perlu foto untuk mengispirasi

2 May

Sekarang trendnya riding sendiri, toh Prides dah punya banyak teman-2 di berbagai kota. Dan nggak perlu berenti ambil foto kalau memang nggak mau, sudah banyak foto-2 indah yang diambil oleh para master. Nikmati riding-imu, put it into words, dan voila, muncullah inspiring riding report.

RR ini dibuat oleh Bandy Itachi saat long weekend kemarin di pertengahan April 2011. Let’s get inspired.

Cukup foto ilustrasi gaya Prides di pasir, nggak perlu foto perjalanan lengkap.

Sedikit berbagi pengalamanku dalam solo touring dengan track Jakarta – Dieng – Jogja – Jakarta, sunguh bukan maksud meminta apresiasi atau bahkan dicemooh karena terlalu “show up” karena ini semata untuk kepuasan dan kesenangan pribadiku jikalau ada yang mengapresiasi atau mencela maka itu bonus buatku dan aku berterimakasih untuk itu.

Bagiku yang baru sekali melakukan solo touring (i am a newbi), ini adalah hal yang luar biasa dan pengalaman hidup yang sangat berkesan bagiku dan tak pernah terlupakan, ada sebagian “suhu touring” yang mengapresiasi, ada juga bahkan seorang “nubi bukan penghuni POL” yang menganggap apa yang kulakukan adalah “biasa biasa saja” (*tepok jidat), tapi terserahlah itu merupakan keanekaragaman tabiat manusia karena sesungguhnya yang menjalani ini adalah aku dan aku yang tau bagaimana suka duka dan perjuangan selama perjalanan itu.

Sudah sejak lama aku penasaran dengan yang namanya dataran tinggi Dieng sebuah tempat milik kabupaten Wonosobo dan Banjanegara, banyak orang bilang Dieng begitu indah dan dinobatkan sebagai sebagai Paris Van Java (Paris nya orang Jawa), entah apa yang mendasari aku untuk melakukan perjalanan 1560 KM (PP) seorang diri mungkin keyakinan dan keberanian diri untuk melihat dan mensyukuri ciptaan Tuhan yang tiada banding indahnya.

Berbagai sumber aku kumpulkan dari web tentang hal hal yang berhubungan dengan ” wisata dieng”, mulai dari peta, tempat wisata sampai tempat penginapan maka terkumpulah sudah informasi2 tersebut. Tatkala saku melihat peta mata ini melirik sebuah propinsi yang letaknya bersebelahan dengan wonosobo yaitu Jogjakarta, dari sini ideku mencoba untuk menjelajahi jogja juga maka aku kumpulkan informasi dari web tentang “Wisata Jogjakarta” Perlu diketahui, aku belum pernah menginjakan kaki ku di Dieng, Magelang, ataupun Jogjakarta

Saya belum punya pengalaman untuk melakukan hal ini, naik gunung saja paling jauh ke kawah ratu itu pun ditemani sama anak2 SD -SMP. Berbekal keyakinan diri, doa keselamatan kepada Allah dan doa orang tua maka aku berangkat dari rumah jam 5.00 pagi.

Aku tersasar….. “start jam 5, baru ampe cikampek, gps eror gak fungsi babar blas, bagi nubi nyasar adalah riset” aku tulis di status facebook ku… hehehe sungguh hal yang memalukan bagi seorang biker mosok cikampek saja nyasar…
aku istirahat sebentar di alfamart beli birdy agar tak ngantuk dan ngelepus 2 batang rokok…kondisi jalan saat itu macet.

Aku melanjutkan perjalanan, ternyata bukan GPS nya yang eror melainkan aku belum familiar menggunakannya *tepok jidat*, aku jalan terus dengan kecepatan rata2 90km/jam, tatkala hasrat hati ingin betot gas sampe 100km/jam lebih aku teringat pesan ibuku agar alon alon asal kelakon (maklum anak genk motor yang juga anak mama), Aku tidak punya pikiran untuk berfoto foto ria di setiap perbatasan kabupaten dan mengingat jam jam berapa saja aku sampai di setiap perbatasan kabupaten dan mencatat nya sebagai bahan RR (kepikiran untuk bikin RR saat itu pun tidak, tapi ternyata wajib ya sebagai member POL? hehehe..), tak sempat terpikirkan olehku yang ada dipikiran ku “aku harus sampai di dieng”

Sampai masuk kabupaten Cirebon sekitar jam 11.30 aku istirahat 45 menit di sebuah pos ronda pinggir jalan sambil minum degan tapi tidak makan, lalu aku lanjut memasuki kota cirebon, aku nyasar lagi, aku mubeng mubeng di kota cirebon, point ku disaat itu aku harus menemukan jalur pantura, akhirnya berhasil aku temukan kembali jalur pantura, motor kembali kupacu, kali ini mencapai 115km/jam akibat gerah diasepin sama vixy dan tigor, aku bawa box k46 kondisi full box dan termasuk golongan biker pulsar anti redline, alhasil diasepin deh…
kabupaten2 demi kabupaten aku lalui cuaca yang tadinya panas menyengat berubah menjadi mendung dan hujan kecil, aku lihat langit sebelah barat masih terang so aku gak berhenti untuk mengenakan jas hujan dan tetap kupacu amaterasu melewati Brebes, Tegal, Pemalang, just info di Brebes ini jalannya banyak lobang jadi harus ekstra hati hati, di brebes akupun terjabak macet, sampai di Pemalang hujan menjadi lebat akhirnya aku meneduh didepan sebuah toko, seorang lelaki tua pengayuh becak memanggilku agar meneduh disampingnya karena tempatnya lebih luas, aku ngobrol dengan kakek itu, aku tanya keluarganya, penghasilan perharinya, luar biasa sungguh aku terharu melihat perjuangan kakek itu, seorang kakek tua yang masih memiliki keinginan untuk berusaha demi nafkah keluarganya sebagai pengayuh becak (T_T), 4 jempolku untuk bapak itu, hujan tak kunjung reda akhirnya aku putuskan untuk mengenakan jas hujan ku dan sebelum kunyalakan amaterasu aku hampiri kakek tua itu dan kegenggam tangannya yang terselip uang 5 x penghasilan minimnya dan sambil menasehati agar dipergunakan untuk beli kebutuhan pokok dan jangan beli rokok, “kakek kan sudah tua, rokoknya berhenti saja, kalau saya kan masih muda jadi gak apa apa merokok”, kakek itu tersenyum dengan tulang pipi yang menonjol keluar dan keriput yang semakin nyata sambil memegang 76 nya, “iya iya…hehehe terimakasih ya om..” …… *jiaaaah kok aku dipanggil om sih..”

Amaterasu kembali kupacu menuju arah pekalongan…sampai pada pertigaan sebelum pekalongan aku lihat penunjuk arah “keatas semarang 180 km, kekanan banjarnegara wonosobo 120km” secara logika mana yang kalian pilih dalam kondisi tak kenal medan? pasti pilih belok ke kanan kan…
lantas belok lah aku ke kanan kearah kanjen – karangkobar.

BERAWAL DARI SINILAH PENGALAMAN EKSTRIM TERJADI YANG PERNAH TERJADI DALAM BERKENDARA DENGAN MOTOR (selain pengalaman menaiki tanjakan tritis di Giri Belah Wonogiri dengan bebek yang kampas kopilngnya udah sekarat hingga bebeknya beserta aku dan ibu ku hampir jengking kebelakang)

Aku memasuki sebuah jalan aspal kasar yang lebar nya hanya bisa dilewati oleh pas ukuran 2 taksi kecil…awalnya sih indah… sebuah jalan menembus hutan kanan dan kiri dihiasi pohon cemara, pinus, karet semua serba hijau, saat itu posisi sekitar jam 4.30 kalau gak salah dan kondisi cuaca hujan kecil, situasi sangat sepi yang intensitas frekuensi kendaraan kira2 15 menit per satu kendaraan, jalan berkelok indah, tanjakan dan turunan yang landai, dalam hati berguman “ndak salah aku pilih jalan ini, begitu indah”, kulihat plang jalan tertulis 120km menuju banjarnegara, masih jauh ya..

kelok demi kelok aku lewati, sesekali mulai muncul rambu kuning tanda seru, ternyata tikungan tajam sudah mulai bermunculan,disusul rambu bergambar mobil nanjak, mobil turun, dan mobil ngepot saling silih berganti disepanjang jalan ini, amaterasu masih kupacu dengan kecepatan 40-60km/jam (aku gak berani ngebut2 didaerah antah berantah ini), jalan terus menanjak, nanjak, dan nanjak kelok tajam kanan kelok tajam kiri, turun, naik lagi turun naik begitu seterusnya sampai gak terhitung berapa kelokan tajam yang aku lewati.

hari sudah mulai gelap dan hujan semakin lebat, jalan sepi sekali gak ada orang, tak ada lampu penerangan benar benar seperti hutan, kaca helm cungkuo bikin masalah air hujan tidak menetes sepeti daun talas melainkan bikin pandangan menjadi buram, kuputuskan untuk membuka kaca helm sambil berkendara hikmahnya aku gak perlu berhenti untuk minum toh langsung bisa kutadahkan air hujan dengan mulutku walau mata dan wajah ini perih kena air hujan

kupacu terus amaterasu melewati puluhan bahkan mungkin ratusan kelok menanjak dan terus menanjak ditengah lebatnya hujan, sepinya jalan dan gelapnya jalan, sebelah kanan ku yang tadinya hutan berubah menjadi jurang tanpa pembatas jalan mengerikan!!!,konsentarasi penuh harus dilakukan saat itu sebab dengan kelokan tajam menanjak bisa jadi keterusan hingga nyemplung jurang. Gelap, Hujan, jalan ekstrim, kiri tebing, kanan jurang, sepi….Ya Allah ternyata aku salah pilih jalan, sempat ragu apakah benar ini jalan menuju dieng? namun sesekali dari arah berlawanan ada motor yang sepertinya dari perjalanan touring, maka aku berkesimpulan “ya ini adalah jalan menuju dieng, lagipula selama jalan masih beraspal layak kemungkinan besar jalan ini bukan deadend street” .Pikiran adanya begal, kuntilanak, genderuwo, nyemplung jurang aku buang jauh jauh sambil terus kutanamkan dalam pikiranku bahwa kematian tidak dapat dihindarkan meskipun kau lari dan bersembunyi dimanapun, seseorang yang berjalan ditepi jurang belum tentu dekat dengan kematian jika ajal belum menjemputnya sebaliknya seseorang berjalan di gang perkampungan bisa jadi dekat dengan kematian jika ajal ingin menjemputnya”

kupacu dan terus kepacu seakan jalan gak ada habisnya kupacu..kapan sampainya? hari sudah benar benar gelap dan kabut pekat mulai turun, untungnya aku punya hella FF75 dikanan EG yang dapat diandalkan menembus kabut, tangan ku sudah lelah melewati puluhan mungkin ratusan tikungan yang rata2 tajam menanjak hingga aku mulai tidak stabil memegang stang motor dan akhirnya………

akhirnya disebuah tikungan menanjak yang sangat tajam aku terperosok disebuah lubang yang dalam disebelah kiri motor, salahnya FF75 ku letakan di kanan sehingga aku tidak melihat jelas lobang itu, aku hampir rebah kekiri dengan beratnya motor pulsar, kaki kiriku menahan beban dalam kondisi masih duduk di jok motor, kurang lebih 1 menit aku menahan motor, oh tidak aku sudah tidak kuat lagi, sepertinya badanku yang kecil ini akan tertindih amaterasu, tak ada orang sama sekali, kabut, gelap dan hujan, oh tidak, 15 detik saja tak ada yang menolongku maka aku akan ketindihan motor, Ya Allah tolong aku.

Alhamdulillah ada yang lewat sebuah motor, aku setengah teriak minta tolong akhirnya orang itu berhenti dan berjalan kearahku, tapi jalan dengan santainya, oh tidak kenapa bapak itu masih santai santai sedangkan aku sudah hampir tidak kuat menahan motor ini, “cepat pak!! saya sudah gak kuat!!” tapi masih santai, eh buseet, mungkin gak ngerti bahasa betawi kali ye, begitu sudah dekat dan melihat jelas kondisiku langsung bapak itu terlihat panik dan segera cepat2 membantu aku “hedewwww….”, weh rupanya dua orang belum cukup untuk mengangkat amaterasu dari lubang yg dalam itu, akhirnya ada motor satu lagi lewat dan ikut membantu aku mengangkat motorku, tak lupa kuucapkan terimakasihku yang sedalam2nya untuk kedua orang itu.

bensin nampaknya banjir, sedikit trouble namun amaterasu bisa segera pulih dan kupacu motor ku karena hari semakin malam..
kabut semakin pekat jarak pandang hanya kira hanya 5 M dan untuk keduakalinya aku hampir tertindih amaterasu…

di sebuah pertigaan menanjak tajam dan berkabut pekat rupanya aku keterusan, seharusnya belok ke kiri tapi aku lurus, langsung sadar aku banting stang ke kiri posisi gigi2 dan tanjakan tajam eh eh eh… motor ku gak kuat nanjak hampir mundur lalu kuturunkan gigi ke 1 tapi sudah terlambat.. gak kuat nanjak sepertinya kampas sudah agak bermasalah.. motor ku mundur kebelakang, untungnya dengan sigap aku berhasil turun dari jok dan masih kuat menahan beban motor full box, kustandarkan motor lantas aku ndeprok di aspal yang teraliri beningnya air hujan, dalam suasana sunyi sepi senyap gelap, kabut pekat dan hujan dan jantung masih berdegap kencang aku istirahat… wow amaterasu nampaknya kamu tidak tega ya untuk menindih aku, sesekali ada penduduk bermotor melewatiku dan menyakan “kenapa mas” aku jawab “sedang istirahat”

lantas aku bangun dan stang motor kupegang, mesin kunyalakan, tapi tidak kunaiki kumasukan gigi1 ku gas dengan tujuan agar motor mau nanjak.. ternyata saking ekstrimnya itu tanjakan selain kampas kopling ku rada bermasalah si amaterasu ngos ngosan menaiki tanjakan padahal aku tidak aku naiki. Ketika kondisi jalan sudah landai lalu kunaiki amaterasu dan kupacu lagi menuju dieng.. dan tibalah aku di dieng plateau sekitar jam 8… alhamdulillah…

Perutku laperrr… terakhir makan 20 jam yang lalu dirumah.. aku cari makanan sebelum cari tempat penginapan, ternyata penginapan bejibun disepanjang dieng plateau, tak disangka tak dinanya aku ketemu bimo teman SMU yg sudah 9 tahun tidak bertemu, kaget dan haru kemudian dia menawarkan tempat untuk menginap, ya sudah dengan senang hati, dia sudah selesai makan sedangkan aku belum makan jadi aku tahan saja laparku dan menuju ke penginapan bimo. Aku mandi air hangat di penginapan itu kemudian aku minta izin untuk cari makan diluar, aku makan pangsit dan minum teh panas yang bisa langsung diminum dengan sekali tiup (saking dinginnya), pangsit udah tinggal setengah porsi kulihat entah lebah atau laler ijo sedang mati tenggelam di kuah pangsit… hueeeks…aku segera sudahi dan bayar dan cari makan lagi karena masih laper, kutemukan kedai nasi goreng, pesan dan makan sambil update status di fb, hahahaha lucunya om @Eltoro Blackpulsar komentar di statusku kalau die juga ada di dieng sendirian, jiaaah, ternyata penginapan dia berlolasi 20 langkah dari kedai ini, bang roy minta ditemenin, dia kesepian dan ketakutan juga kedinginan (:Peace:), akhirnya aku bermalam di penginapan bang roy sambil bercerita tentang pengalaman masing masing,

Pagi jam 4.30 kami (bandhy dan bang roy) harus ready untuk menaiki gunung sikunir melihat Gold Sun Rise, pasang alarm dan tidur ah….

jam 4 aku bangun kusiapkan semuanya, agak terlambat akhirnya bang roy ditinggal guide nya hahahaha… buru buru akhirnya sepatu touringku yg kubeli seharga 200rb dengan harga asli 800rb di PRJ jatuh di jalan entah dimana T_T untungnya dapat pinjaman AP boot bang roy ukuran 43 sedangkan ukuranku 40😯
tanpa guide kami berkendara mengikuti feeling akhirnya ketemu deh bukit sikunir, motor diparkir dibawah dan kami menaiki bukit sikunir sejauh -+500m, bang roy ampun ampunan disini gak kuat jalan hahahaha…
sampai di atas di sudut dimana penampakan sunrise terlihat sempurna kami berhenti dan menunggu matahari terbit, cukup banyak orang dititik ini sambil menggenggam kamera dslr beserta perangkatnya siap siap menunggu matahari muncul, sayangnya cuaca kurang mendukung jadi gold sunrise tertutup awan/kabut jadi terlihat tidak sempurna padahal kalau cuaca cerah pemandangan yang terlihat sangat menakjubkan sekali seperti yg terlihat di poster tempat penginapan kami.

Tak disangka aku dibukit itu bertemu rekan kantor @ tapi lain cabang, sungguh kebetulan yang aneh…bertemu dengan teman SMU, bertemu dengan teman komunitas dan bertemu sengan rekan kantor di tempat ini hehehe…

Kemudian kami turun dari bukit dan bersantai sejenak di telaga cebong sambil menikmati secangkir kopi panas yang langsung dingin sekali tiup selanjutnya kami menuju dieng theater yaitu sebuah theater yang menayangkan film tentang sejarah dieng dan informasi tentang dieng

lanjuut… kami memasuki kawasan telaga warna, di sini selain telaga warna juga terdapat ada beberapa objek wisata selain telaga warna yaitu telaga pengilon, gua Semar, gua sumur, gua jaran, batu tulis/batu Semar dan kami sudah mengunjungi kesemua tempat itu kecuali telaga pangilon. Telaga warna sangat indah sekali, jika cuaca cerah maka airnya hijau tosca tapi kemarin cuaca mendung jadi air nya berwarna hijau lumut mungkin karena pantulan langit yang mendung Ada salah satu gua dari ketiga gua tersebut yang konon tembus sampai pekalongan… widih widiih..,
ada batu semar yang katanya kalau dilihat dati satu titik tertentu maka bentuknya seperti semar, aku penasaran maka aku berdiri dititik tersebut tapi kok sama sekali gak mirip semar, kata salah satu pengunjung “coba deh pak lihat lagi mirip kok” aku bilang “enggak ah mirip darimana?” :matabelo:

lanjut…. setelah itu kami menuju kawasan kompleks candi arjuna ada Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, Candi Dwarawati, Candi Bima, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi dan Candi Puntadewa. Rupanya bang Roy ditunggu oleh rekan Prides di Salatiga – Solo sehingga beliau kembali ke penginapan dan melanjutkan perjalanan ke Salatiga sedangkan aku memilih tinggal di sini karena berencana ke Jogjakarta. Jam 12 kami ke penginapan dan melepas kepergian bang roy, aku mau lanjut mengeksplor dieng karena banyak tempat yang belum aku kunjungi di dieng plateau seperti Curug Sirawe, Kawah Sikidang, Telaga Balekambang, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Sumur Jalatunda dan Gua Jimat… namun apadaya cuaca kurang mendukung, kabut turun dan hujan juga turun sepanjang sisa hari terpaksa aku stay di penginapan dan tiduuur….suatu saat aku mau kesini lagi dan akan kukunjungi tempat tempat itu smpai tuntas amiin..

Aku bangun jam 6.00 sore ku ambil perlengkapan mandi masuk kekamar mandi cuma melototin bak mandi selama kurang lebih 30 menit karena airnya seperti air di kutub utara.. aku ndak jadi mandi.. :malu: maklum penginapan yang tarifnya 55rb/malam ini ndak ada hot water, kalau yang ada hot water tarifnya 150rb disebelah penginapan ini yaitu penginapan bu jono

malam sebelum tidur aku pelajari peta menuju jogja dengan berbagai tempat wisatanya karena besok jam 5.30 aku ingin ke gardu pandang yaitu suatu sudut tempat dimana kita bisa melihat silver sunrise untuk selanjutnya berangkat meninggalkan dieng menuju jogja
aku sulit tidur karena beberapa pasang kewan (kumpul kebo) di kamar sebelah berisik teriak teriak gak jelas.

Jam 5.30 aku bangun, begitu keluar dari pintu kamar terlihat beberapa pasang kewan keluar dari sebuah kamar kewan betinanya pakai tanktop yang bikin mata aku kedap kedip seperti kecipratan sambel… astaghfirullah mudah mudahan aku dapet istri yang bukan kewan dan bukan bekas tunggangan kewan ckckckck…. kemudian mandi.. sumpah ini mandi pake air dari kutub utara.. dingin bener sampai ke jantung

waduh aku kesiangan, jam 6.00 baru check out sedangkan waktu sampai ke gardu pandang 15 menit lantas menurut info di internet sunrise muncul jam 6.00… bener juga pas sampe di gardu pandang aku tanya orang situ “sampean kesiangan mas…” nangis deh aku.. cuma dapat pemandangan matahari kesingan hiks hiks….

ya sudah lah, aku melanjutkan perjalanan menuju magelang untuk singgah ke borobudur melewati jalan wonosobo – magelang, dan benar adanya seharusnya aku kemarin menuju dieng melewati jalan ini karena berbeda 180 derajat dengan jalur ekstrim yang lalu kulewati, jalur ini cukup lebar, ramai rumah penduduk dan ada penerangan. Namun harus diwaspadai memasuki daerah magelang banyak jalan berlubang nanjak dan nurun, aku hajar lobang sekali disini.

Sekitar jam 9.30 aku sampai di borobudur.. aku keliling komplek candi dan foto foto disini, arcanya beberapa yang tanpa kepala mungkin dicolong orang.. megah sekali candi ini tak heran merupakan satu dari 7 keajaiban dunia, bagaimana mungkin batu2 bsia berdiri megah dan indah tanpa perekat semen?

lanjuuut .. setelah itu aku ke Kaliurang Jogjakarta tapi nampaknya aku salah jalur, seharusnya aku ke prambanan dulu baru ke kaliurang jadinya gak bisa menjumpai monumen jogja deh, dengan GPS andalanku sampailah aku di wisata kaliurang, tujuanku kesini ingin melihat merapi dari dekat dan berfoto bersama lahar dingin seperti yang ada di foto nya mas @Bayumurti Tejokusumo dan mas @Ags Stwn tapi begitu sampai dikaliurang aku tanya ke penjaga loket ternyata merapi bukan disini tempatnya tapi di kaliadem *tepokjidat*, yah terlanjur sampai sini ya sudah aku masuk aja ke wisata kaliurang

Di wisata kaliurang ini ada gua yang namanya gua jepang, untuk sampai kegua ini aku harus menaiki bukit terjal sepanjang -+1000 M, gua ini memang tak seindah gua gua alami lain nya dibeberapa tempat di Indonesia namun goa ini punya nilai sejarah yang tinggi, gua ini terdiri dari 25 mulut goa, goa ini adalah goa buatan bukan goa alami, goa ini dibuat pada masa penjajahan jepang. Penjajah jepang keparat waktu itu memberlakukan kerja paksa romusha kepada rakyat indonesia untuk pembuatan 25 gua sebagai benteng penjajah jepang yang tatkala saat itu terdesak oleh pejuang tanah air dan sekutu, banyak rakyat yang tewas dari kegiatan romusha ini dan pembuatan gua ini tidak selesai seperti yang direncanakan karena penjajah jepang keburu cabut dari Indonesia akibat serangan bom atom oleh AS di Nagasaki dan Hiroshima. Maka ketika saya menelusiri goa yang ada hanyalah goa buntu dari setiap mulut goa karena belum selesai pembuatannya, disini juga banyak sarang kelelawar pemakan serangga. Ditempat ini aku membayangangkan kondisi ketika romusha terjadi.. sungguh menyedihkan..

Di wisata kaliurang ini ada suatu tempat yang namanya bukit pelawangan, disini kita bisa melihat pemandangan gunung merapi dari jauh, tapi harus naik lagi sekitar 500m, dengkul ku sudah gemetar, cuaca mendung khawatir nanti pemandangan diatas gak bagus, ditambah lagi GPS ku masih terpasang di tempat parkir.. kuputuskan untuk turun dan mengamankan GPS ku, syukur GPS ku masih ada..

hujan turun, kukenakan jas hujan dan melanjutkan perjalanan ke kaliadem (merapi), jarak antara kaliurang dan kaliadem tak begitu jauh sekitar 15 menit, sampai dikawasan merapi ternyata aku diberhentikan oleh tukang parkir dan katanya maksimal motor masuk cuma disini, aku kecewa berat karena aku mau lihat merapi dari dekat.. aku parkir di tempat itu dan beristirahat foto2 disekitar lokasi itu, sungguh aku kecewa banget..ternyata aku dapat info dari mas agus kalau mau lihat merapi dari dekat bayar saja ke tukang parkirnya sayangnya info itu aku terima ketika aku sampai di prambanan

lanjuut… kuaktifkan GPS dan kupacu amaterasu menuju prambanan diperbatasan Jogja-Klaten, melewati jalan yang entah apa namanya aku lupa ada ring road ring roadnya gitu deh..sampai di prambanan sekitar jam 3 sore. Prambanan tak kalah megah dengan borobudur. Pramabanan terdiri dari candi rorojongrang (termegah), candi sewu sandi dan lain lain yg aku lupa namanya. Canda roro jonggrang ini terbagi lagi menjadi Siwa, Wisnu dan Brahma. Setalah mengelilingi kompleks candi ini aku lanjut ke kediaman bulek (bibi) ku di dekat flyover janti yang lokasinya tak jauh dari prambanan untuk menginap dan beristirahat.

sampai di rumah bibi, aku disambut hangat dan mereka tidak percaya kalau aku menempuh perjalanan seorang diri dari Jakarta, aku yakinkan dan akhirnya mereka percaya sambil geleng geleng “koe edan ya?”
aku mandi dan makan malam disini dan bercakap cakap dengan seluruh anggota keluarga bibi. Aku gak boleh pulang besok sama bibi, dan baru boleh pulang hari selasa.

Besok paginya jam 10.00 aku pamit menuju pantai gunungkidul seorang diri (menurut bibi jam 6-9 adalah jam macet di jogja kota), pantai yang ingin aku sambangi adalah pantai baron, kukup dan krakal.
perjalanan dari janti ke pantai baron memakan waktu 1.45 menit dengan kecepatan standar versi ku. Karakter jalan menuju gunung kidul lumayan memacu adrenalin, bagi yang suka mereng mereng boleh dicoba disini, kelak kelok nanjak nurun silih berganti disepanjang jalan ini

Pantai baron ini sangat indah, karakter pasir putih, laut biru kehijau hijauan dan dikelilingi oleh tebing tebing tinggi. Di baron terdapat jalan setapak menuju ke atas tebing, aku menaiki bukit tersebut sampai di puncak ketinggian…Maha Suci Allah sungguh indah pemandangan tempat ini ketika dilihat dari puncak tebing, lalu aku pandang sebelah barat nampak sebuah pantai pantai yang kuperkirakan berjarak 1km dari tempat kuberdiri, aku bertanya dalam hati karena gak ada seorangpun diatas tebing yang bisa kutanya, ya.. aku sendirian..aku bertanya “apakah yang kulihat disana adalah pantai kukup yang katanya bersebelahan dengan pantai baron ataukah itu masih pantai baron?” tanpa pikir panjang aku segera berjalan ke arah barat menuruni tebing menuju ke arah bibir pantai itu melewati semak belukar jalan mendaki menurun dan serangga2 aneh berkeliaran dijalan setapak tanpa ada seorang pun,,, ya aku sendiri..sepi…

ketika keluar dari semak belukar aku ternyata aku berdiri di sebuah teluk kecil antara pantai baron dan pantai yang aku identifikasikan sebagai pantai kukup. Cukup lama aku beristirahat disini menikmati pemandangan yang indah, sepi hanya aku sendiri berasa aku adalah marcopolo yang menemukan sebuah teluk indah ini, foto profil ku saat ini kuambil diteluk ini. Ternyata teluk ini berada di antara dua tebing yang memisahkan pantai baron dan pantai yang kuidentifikasikan sebagai pantai kukup. Puas disini aku kembali berjalan ke arah barat menaiki tebing lagi kemudian turun dan sampailah aku pantai yang kumaksud tadi, disini pantai agak sedikit cukup ramai dibanding baron, aku tanya orang sekitar ternyata ini memang benar adanya yaitu pantai kukup. Sangat jarang sekali orang yang menuju pantai baron – kukup atau sebaliknya dengan melewati tebing dan semak belukar mereka lebih memilih memutar kebelakang melalui jalan aspal utama, hahaha aku tadi cuma bereksperimen saja apakah ini pantai kukup atau bukan ternyata pantai kukup. Karakter pantai ini unik, airnya seperti air tawar bening…aku suka pantai ini..indah sekali dengan ombak yang lumayan besar

Setelah menikmati kedua pantai ini aku ingin ke pantai krakal, kutanya orang sekitar jaraknya masih jauh dari sini maka aku kembali ke baron melewati tebing tadi karena motorku ada disana, perjalanan jalan kaki melewati tebing antara baron-kukup memakan waktu sekitar 60 menit PP ini kuhitung pakai jam HP lumayan bikin ngos ngosan

Sampai di baron perutku lapar, aku makan direstoran yang berderet disini, aku makan ikan bawal bakar sambel terasi plus lalapan teh manis 2 gelas.. ikannya seger banget.. dan rasanya sungguh lezaaat…, selesai makan aku menuju krakal

sampai di krakal aku istirahat disini, karakteristik pantai disini luas dan landai…tapi dibanding kedua pantai tadi aku lebih suka baron dan kukup, waktu sudah semakin sore, aku bergegas meninggalkan krakal dan kembali ke rumah bule di janti.

Sampai dijanti aku beristirahat di rumah bule dan bercerita pengalaman yang kualami tadi. Aku bilang ke mereka besok pagi jam 6 aku mau beranjak ke Jakarta tapi sebelumnya aku mau ke parang tritis.

Ternyata aku kesiangan, karena lelah aku bangun jam 8.30😯, aku bergegas mandi, makan dan pamit sama keluarga bule dan tak lupa kuucapkan banyak terimakasih kepada keluarga bule… ngacir deh ke arah bantul jogja jam 10.00

sampai parang tritis sekitar jam 11, karakter pemandangan laut disini luas berpasir putih dan landai juga berombak besar tapi agak sedikit masih ditemui sampah sampah kecil tapi jarang… aku istirahat dan menikmati pemandangan disini sebentar karena aku harus kembali ke Jakarta, kupacu motor ku menuju Magelang – Ambarawa – Semarang lanjut ke pantura… selama di pantura hujan deras dan gerimis silih berganti, ketika hari sudah mulai gelap aku punya masalah dengan kaca helm cungkuo, kaca helm ini sungguh bikin masalah, jika kena cahaya lampu mobil dari arah berlawanan menjadi berpendar sehingga penglihatan hanya berfungsi sekitar 30% apalagi jiak dikombinasikan dengan hujan ketika ada cahaya dari arah berlawanan kaca helm berubah menjadi warna kuning smua sebingga penglihatan hanya berfungsi sekitar 0.0001% kuputuskan untuk membuka kaca helem sepanjang pantura, hujan yang menerpa wajah dan mata cukup perih rasanya olehkerana itu kecepatanku maks hanya 60km/jam dikala hujan tapi ketika reda aku betot hingga diatas 100km/jam, aku beberapakali istirahat disepanjang pantura ini karena helm cungkuo itu!!!

Perjalanan seorang diri tengah di pantura tanpa ada motor selain motorku menjadi sensasi tersendiri betapa tidak di kanan ku adalah bis bis malam yang galak siap menyalip truk truk besar yang ada kiri jalan, jadi dalam kondisi ini mata dan pikiran harus terkonsentrasi penuh dan harus jeli dan penuh perhitungan dalam mengukur jarak antar kendaraan di depan dan dibelakang untuk salip dan disalip harus teliti melihat spion kanan dan kir. Beatapa groginya aku ketiga diklakson bis malam yang tepat sekali dekat dibelakangku TOOOOOOOTTTTTT…. sampai di indramayu jam 1.00 pagi oh tidak… lambat sekali perjalanku ini, dasar kaca helm edan!! kemudian aku pacu lagi motorku hingga tiba di rumah jam 5.30 dan langsung mandi dan berangkat kerja *tepok jidat*

37 Responses to “Riding Report Bandy Itachi, tak perlu foto untuk mengispirasi”

  1. welexmail May 2, 2011 at 12:36 am #

    pertamax dulu buat suhu Bandy Itachi

    • blackmax May 3, 2011 at 10:21 am #

      rrna ride with prides eh pride mana nihh..😆

  2. bayutheprides May 2, 2011 at 12:44 am #

    Gak pernah bosen baca amazing RR ini. Semoga menginspirasi. “Bagi nubie nyasar adalah riset!” Kata Bandhy.

  3. awanyuya May 2, 2011 at 1:00 am #

    woooow kereeeeen😀

  4. bandhy May 2, 2011 at 1:06 am #

    hiks hiks.. terharu saya… terimakasih suhu

  5. herimoko May 2, 2011 at 1:35 am #

    Ruarrr…. biasa….., runtut & ditail banget ceritanya.
    Akhir maret kemarin solo touring Bantul – Bekasi, rute daendels-purwokerto-prupuk-pantura dari bantul jam 05.00, mpe bekasi jam 21.00 ( + nyasar, macet )

  6. sultan May 2, 2011 at 1:42 am #

    emang luar biasa nih rr
    salut buat Bandhy

  7. auga May 2, 2011 at 1:53 am #

    banyakan tulisan gak doya………kalau gamabar kaya komik boleh tuh…….

  8. kang_oma May 2, 2011 at 1:58 am #

    salam kenal suhu bandhy xixixi

  9. punu May 2, 2011 at 2:03 am #

    jempol 5 buat bandhy… mantap kali RR engkau bro ^^

  10. mbah3DW May 2, 2011 at 2:29 am #

    Mangstabs gan!!

  11. pipin13 May 2, 2011 at 2:31 am #

    RR yang sangat menginspirasi…..

    jadi kangen turing

  12. vankaoy May 2, 2011 at 2:51 am #

    keren bro..!!…:) ancungin jempol

  13. dwijef May 2, 2011 at 3:26 am #

    wuaaa… keyeen… keyeeen… T_T
    jadi pengen solo turing…

  14. hendri May 2, 2011 at 4:07 am #

    perjalanan yang luar biasa
    salut buat om bandy

  15. nunoe May 2, 2011 at 4:14 am #

    kayak cerpen..
    keren..
    ngga perlu poto2 buat menggambarkan serunya perjalanan itu..
    TOP

  16. setia1heri May 2, 2011 at 4:26 am #

    kayak nopel ae…wkwkw

    sebuah foto bisa menjelaskan seribu kata😛

  17. robo May 2, 2011 at 4:54 am #

    Muanntaaabbbb om…..

    jadi inget jamnas PRIDES di Jogja…..

    Jakarta-Tegal, jalan boncengan sama istri (waktu itu masih calon)

    Tegal-Dieng, ngikut om Agus lewat pemalang trus motong ke banjarnegara, karang kobar, dieng.

    di dieng ketemu Agura, dan anak2 pulsarian. Udah kaya kondangan deh acara salam2anya.

    Dieng-jogja, saya boncengan, dan duo Agus. xixixixi
    sampe Jogja, saya dan duo agus berpisah, saya ke rumah temen saya, duo agus lanjut ke baron apa mana y?

    Jogja-Jakarta, bareng rombongan Prides yang balik duluan + om Agus (pisah di cilacap)….

    sungguh pengalaman yang tak terlupakan…..

  18. bandhy May 2, 2011 at 5:13 am #

    “komik” nya ada disini hehehe

    http://www.prides-online.com/showthread.php?t=12063
    juga disini
    http://www.facebook.com/#!/media/set/fbx/?set=a.1362030107413.38702.1731390885

    terimakasih atas apresiasinya brother2…

  19. wakwaw May 2, 2011 at 5:49 am #

    dua jempol di atas buat suhu tidur

    • bandhy May 2, 2011 at 7:11 am #

      terimakasih suhu wakwaw.. kapan kita kemana?

  20. Arim May 2, 2011 at 7:08 am #

    numpang komen

    ampat jempol buat agan bandhy,,
    chapternya keren,, cuma perlu sedikit udat edit aja bisa jadi chapter yang se keren perjalanan touringnya,,

    omong2 emang parang tritis pasirnya putih yah?
    :bingung:

    • bandhy May 2, 2011 at 7:13 am #

      sempat ragu parang tritis pasir putih atau hitam, bayanganku pasir hitam ya seperti pasir yang ada di toko matrial, tapi di parang tritis warnanya bukan hitam, jadi kusimpulkan parang tritis pasirnya putih hehehe.. salah ya.. jadi pasir apa dong?

      • Arim May 2, 2011 at 7:30 am #

        karena aku sudah melihat pasir seputih di ujung genteng dan tidung jadi aku bilang parang tritis pasirnya butek sama kaya pasir di pelabuhan ratu dan anyer sudah tercemar,,

        salam,
        -arim di balik-

    • bandhy May 2, 2011 at 7:38 am #

      arim dibalik mira, mira hamzah kah?

      jadi mau ke UG….

      • Arim May 2, 2011 at 7:46 am #

        ke UG? ngebis ya om😀
        :ups dilarang menyebutkan kendaraan lain yah di kandang motor”

  21. akbar May 2, 2011 at 4:00 pm #

    manstapp om ichi….salut bgt…
    kpan bisa turing & RR kyk gini..

  22. anggiwirza May 2, 2011 at 4:27 pm #

    bukan main dari dieng dan jogja sampe rumah lanjut kerja… :thumbup:

  23. Cicakmerah May 2, 2011 at 6:07 pm #

    wuih. cerpen euy… besok ah bacanya😀

    • pridesonline May 3, 2011 at 12:24 am #

      buruan tambah motor pulsar buat touring
      komporin pocker niih xixixi

  24. SixBalak May 3, 2011 at 12:16 am #

    Kewan, wkwkwkwk, masih ngakak aku baca kebo nginep.

  25. travalgar.san May 4, 2011 at 3:39 am #

    Wah mantabs RR nya..benar2 terhanyut bacanya..jadi pengen..hehe..salute to suhu bandy itachi

  26. joetrizilo May 4, 2011 at 4:46 am #

    Bacanya ampe ngantuk….. namun salute…. salute….jadi terinspirasi untuk mengadakan touring juga….

  27. Insan - Kinan May 4, 2011 at 10:30 am #

    kereen…jadi pengen turing lagi…😀

  28. tedy tabiang September 21, 2012 at 12:36 pm #

    biar kata terlambat membaca tulisan ini ….. ane mengatakan SALUT buat BANDHY….. bener bener MANTABSS pengalaman dan tulisannya… sekali lagu… ane SALUT.
    *Ane ada niat riding ke dieng seminggu lagi dari bekasi…. ane baca baca report perjalanan touring khusus ke dieng…. dan nemu tulisan ini…..

  29. bambang w. March 17, 2013 at 5:58 am #

    lagi jalan2 eh nemu RR nya bandhy..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: